Istilah pseudo-geophysics (geofisika semu) disematkan pada alat ADMT (Aidu Digital Magnetotelluric) oleh komunitas profesional karena adanya perbedaan signifikan dalam standar ilmiah, transparansi data, dan metodologi dibandingkan dengan instrumen geofisika murni
.
Proses Data "Black Box": Berbeda dengan standar geofisika yang mengharuskan data mentah diproses dan diinversi secara manual untuk validasi Geosciences Universitas Indonesia, ADMT menggunakan algoritma tertutup yang menghasilkan penampang bawah permukaan secara instan. Kurangnya transparansi ini menyulitkan ahli untuk melakukan kendali mutu (quality control) SADC-GMI.
- Penyederhanaan Prinsip Magnetotellurik (MT): Metode MT profesional mengukur rasio kompleks antara medan listrik dan magnet (impedansi) ScienceDirect. ADMT dikritik karena dianggap hanya mengukur beda potensial listrik alami (sinyal frekuensi tunggal) tanpa sensor magnetik yang memadai, sehingga dianggap terlalu menyederhanakan hukum fisika Abitibi Geophysics.
- Akurasi vs. Kemudahan Penggunaan: Alat ini dirancang untuk pengguna non-ahli (seperti pengebor sumur) dengan fitur interpretasi otomatis berbasis AI. Dalam geofisika murni, interpretasi harus mengintegrasikan konsep geologi dengan prinsip fisika yang ketat, bukan sekadar mengikuti visualisasi warna dari aplikasi Minelog Services Indonesia.
- Minim Validasi Akademis: Teknologi ADMT jarang dipublikasikan atau dibahas dalam jurnal ilmiah bereputasi sebagai metodologi standar. Sebagian besar informasinya berasal dari brosur pemasaran daripada dokumen teknis yang melalui tinjauan sejawat (peer-review) ResearchGate.

No comments:
Post a Comment